Cari Blog Ini

Sabtu, 02 Februari 2013

Ansos, Anti Sosial? Jangan Asal Nilai!

Ansos adalah sebuah akronim yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan pelajar. Akronim ini sendiri memiliki kpenjangan anti sosial dan seringkali dikaitkan dengan orang-orang yang dianggap tidak memiliki keinginan untuk hidup secara sosial atau berdampingan dengan orang lain.
Namun seringkali ungkapan ini dilabelkan dengan alasan yang sangat subjektif dengan tolak ukur penilaian yang dilakukan hanya oleh segilintir orang. Jika demikian, masih pantaskah akronim “ansos” ini memiliki arti anti sosial?
Arogansi sosial
Daripada berkutat dengan justifikasi anti sosial yang terus dilabelkan tanpa sebuah alasan yang jelas, penulis lebih berkeinginan untuk membuat pengertian baru tentang akronim “ansos” ini, yakni yang berarti arogansi sosial. Mengapa demikian?
Kehidupan seseorang adalah sebuah kehidupan yang kompleks yang selalu disertai dengan cerita-cerita yang memberikan warna pada setiap lembar putih kehidupannya. Inilah yang membuat setiap individu adalah pribadi yang unik, yakni karena latar belakang mereka berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, setiap tindakan yang dilakukan oleh seorag individu tidak bisa dipungkiri memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi mereka. 

Patut untuk disayangkan bahwa pemahaman terhadap fenomena ini seringkali terlupakan oleh mereka yang sering melabelkan “ansos” kepada seseorang. Seringkali penilaian yang sangat subjektif menjadi modal utama dalam pelabelan tersebut tanpa melihat motif mereka melakukan hal demikian. Dalam hal ini masalah kehidupan yang begitu kompleks sudah dismplifikasikan oleh segelintir orang untuk kemudian digeneralisasi menjadi seuah standar baru yang dianggap diterima umum. 

Ambil contoh kasus seperti ini. Seorang anak memiiliki kesulitan finansial dan hal ini menyebabkan anak itu harus berhemat dalam kehidupannya. Akhirnya, anak tersebut jarang berkumpul dengan teman-temannya dikarenakan seringkali diajak ke tempat-tempat yang ia anggap hanya membuang uangnya. Dengan keengganan anak ini untuk bergabung dengan teman-temannya, ia kemudian dilabelkan dengan anak yang “ansos.” Stigmatisasi terhadap anak ini akhirnya membuat ia semakin merasa tersingkir dari kehidupan sosialnya dan akhirnya ia menjadi seseorang yang betul-betul antisosial. 

Ambil contoh kasus lainnya. Seseorang memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan orang-orang di sekitarnya. Dikarenakan ia memiliki pola hidup yang berbeda itulah, ia jarang bergabung dengan rekan-rekan di sekitarnya. Namun di sisi lain, ia memiliki kehidupan sosial yang lain di luar. Lalu dengan mudah ia dilabekan “ansos” oleh rekan-rekan di sekitarnya.
Dua contoh kasus di atas setidaknya menunjukkan motif-motif yang seringkali diajukan oleh seseorang untuk menjustifikasi seseorang sebagai orang yang “ansos.” Sebuah hal yang patut disayangkan bahwa mereka tidak berusaha untuk mengenal lebih jauh tentang orang tersebut dan hanya langsung melabelkan orang tersebut sebagai pribadi yang antisosial.
Dalam hal inilah nampak jelas bahwa yang terjadi adalah sebuah arogansi sosial daripada antisosial. Daripada berusaha untuk mengenal setiap pribadi lebih jauh, orang-orang tersebut lebih mementingkan bahwa gaya hidup mereka lah yang seharusnya diikuti, beranggapan bahwa hidup mereka adalah yang terbaik dengan keseimbangan pada kehidupan privat dan sosialnya. Lalu, tidakkah mereka mengucilkan yang lainnya? Tidakkah ini lebih tepat dikatakan sebagai sebuah fenomena arogansi sosial?

Komunikasi
Jurgen Habermas, seorang filsuf tersohor kebangsaan Jerman, selalu menekankan pentingnya aspek komunikasi dalam kehidupan bermasayarakat. Baginya, komunikasi intersubjektif adalah sebuah program untuk menyelesaikan proyek modernisasi yang belum selesai.
Oleh karena itu, penting bagi setiap individu untuk membangkitkan komunikasi intersubjketifnya. Daripada berkutat dengan pelabelan seseorang dengan lable antisosial, ada baiknya setiap individu mengajak berkomunikasi orang yang mereka anggap sebagai antisosial tersebut. Tidakkah hal terseut lebih baik daripada mejustifikasi mereka tanpa alasan? Setidaknya, dari komunikasi ini, latar belakang kehidupannya dapat dilihat dan pada akhirnya akan diketahui pula mengapa mereka berbuat demikian. Setiap tindakan pasti ada penyebabnya dan penyebab mereka tidak mau bergabung inilah yang seharusnya dikomunikasikan sehingga setiap individu pada akhirnya mengerti keadaan yang sebenarnya yang sedang dihadapi oleh orang tersebut.
Jika sudah demikian, bisa dipastikan akan ada solusi tengah yang bersifat mengakomodasi setiap kepentingan individu tersebut. Jika misalnya kesulitan yang dihadapi adalah masalah finansial, maka dapat dicari solusi untuk pergi bersama yang tidak perlu menghaiskan banyak uang atau solusi lain yang kiranya tidak memberatkan orang tersebut.
Ansos adalah sebuah fenomena yang sekiranya patut untuk disikapi dengan hati-hati. Pelabelan seseorang dengan predikat ini bisa menimbulkan stigmatisasi dan marjinalisasi terselubung yang pada akhirnya membuat orang tersebut menjadi betul-betul anti sosial.
Oleh karena itu, daripada mengartikan “ansos” sebagai sebuah fenomena antisosial, penulis lebih suka untuk menyebutnya sebagai sebuah fenomena arogansi sosial sebab pada tataran inilah terlihat dominasi nilai seseorang terhadap orang lainnya tanpa berusaha mengetahui lebih jauh tentang kehidupan orang tersebut. Menghindari hal ini, komunikasi adalah hal mutlak yang perlu untuk dilakukan, sehingga tidak ada lagi antisosial maupun arogansi sosial bahkan hingga pada hilangnya akronim “ansos.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Cara ngepos komentar tanpa blog.Klik Nama/URL.Isi nama kosongkan URL Dan tinggal tulis komentarmu