Ansos adalah sebuah akronim yang sangat familiar dalam kehidupan sehari-hari, terutama di kalangan pelajar. Akronim ini sendiri memiliki kpenjangan anti sosial dan seringkali dikaitkan dengan orang-orang yang dianggap tidak memiliki keinginan untuk hidup secara sosial atau berdampingan dengan orang lain.
Namun seringkali ungkapan ini
dilabelkan dengan alasan yang sangat subjektif dengan tolak ukur
penilaian yang dilakukan hanya oleh segilintir orang. Jika demikian,
masih pantaskah akronim “ansos” ini memiliki arti anti sosial?
Arogansi sosial
Daripada berkutat dengan
justifikasi anti sosial yang terus dilabelkan tanpa sebuah alasan yang
jelas, penulis lebih berkeinginan untuk membuat pengertian baru tentang
akronim “ansos” ini, yakni yang berarti arogansi sosial. Mengapa
demikian?
Kehidupan seseorang adalah sebuah
kehidupan yang kompleks yang selalu disertai dengan cerita-cerita yang
memberikan warna pada setiap lembar putih kehidupannya. Inilah yang
membuat setiap individu adalah pribadi yang unik, yakni karena latar
belakang mereka berbeda satu sama lain. Oleh karena itu, setiap
tindakan yang dilakukan oleh seorag individu tidak bisa dipungkiri
memiliki kaitan dengan kehidupan pribadi mereka.
Patut untuk disayangkan bahwa
pemahaman terhadap fenomena ini seringkali terlupakan oleh mereka yang
sering melabelkan “ansos” kepada seseorang. Seringkali penilaian yang
sangat subjektif menjadi modal utama dalam pelabelan tersebut tanpa
melihat motif mereka melakukan hal demikian. Dalam hal ini masalah
kehidupan yang begitu kompleks sudah dismplifikasikan oleh segelintir
orang untuk kemudian digeneralisasi menjadi seuah standar baru yang
dianggap diterima umum.
Ambil contoh kasus seperti ini.
Seorang anak memiiliki kesulitan finansial dan hal ini menyebabkan anak
itu harus berhemat dalam kehidupannya. Akhirnya, anak tersebut jarang
berkumpul dengan teman-temannya dikarenakan seringkali diajak ke
tempat-tempat yang ia anggap hanya membuang uangnya. Dengan keengganan
anak ini untuk bergabung dengan teman-temannya, ia kemudian dilabelkan
dengan anak yang “ansos.” Stigmatisasi terhadap anak ini akhirnya
membuat ia semakin merasa tersingkir dari kehidupan sosialnya dan
akhirnya ia menjadi seseorang yang betul-betul antisosial.
Ambil contoh kasus lainnya.
Seseorang memiliki kehidupan sosial yang berbeda dengan orang-orang di
sekitarnya. Dikarenakan ia memiliki pola hidup yang berbeda itulah, ia
jarang bergabung dengan rekan-rekan di sekitarnya. Namun di sisi lain,
ia memiliki kehidupan sosial yang lain di luar. Lalu dengan mudah ia
dilabekan “ansos” oleh rekan-rekan di sekitarnya.
Dua contoh kasus di atas
setidaknya menunjukkan motif-motif yang seringkali diajukan oleh
seseorang untuk menjustifikasi seseorang sebagai orang yang “ansos.”
Sebuah hal yang patut disayangkan bahwa mereka tidak berusaha untuk
mengenal lebih jauh tentang orang tersebut dan hanya langsung
melabelkan orang tersebut sebagai pribadi yang antisosial.
Dalam hal inilah nampak jelas
bahwa yang terjadi adalah sebuah arogansi sosial daripada antisosial.
Daripada berusaha untuk mengenal setiap pribadi lebih jauh, orang-orang
tersebut lebih mementingkan bahwa gaya hidup mereka lah yang seharusnya
diikuti, beranggapan bahwa hidup mereka adalah yang terbaik dengan
keseimbangan pada kehidupan privat dan sosialnya. Lalu, tidakkah mereka
mengucilkan yang lainnya? Tidakkah ini lebih tepat dikatakan sebagai
sebuah fenomena arogansi sosial?
Komunikasi
Jurgen Habermas, seorang filsuf
tersohor kebangsaan Jerman, selalu menekankan pentingnya aspek
komunikasi dalam kehidupan bermasayarakat. Baginya, komunikasi
intersubjektif adalah sebuah program untuk menyelesaikan proyek
modernisasi yang belum selesai.
Oleh karena itu, penting bagi
setiap individu untuk membangkitkan komunikasi intersubjketifnya.
Daripada berkutat dengan pelabelan seseorang dengan lable antisosial,
ada baiknya setiap individu mengajak berkomunikasi orang yang mereka
anggap sebagai antisosial tersebut. Tidakkah hal terseut lebih baik
daripada mejustifikasi mereka tanpa alasan? Setidaknya, dari komunikasi
ini, latar belakang kehidupannya dapat dilihat dan pada akhirnya akan
diketahui pula mengapa mereka berbuat demikian. Setiap tindakan pasti
ada penyebabnya dan penyebab mereka tidak mau bergabung inilah yang
seharusnya dikomunikasikan sehingga setiap individu pada akhirnya
mengerti keadaan yang sebenarnya yang sedang dihadapi oleh orang
tersebut.
Jika sudah demikian, bisa
dipastikan akan ada solusi tengah yang bersifat mengakomodasi setiap
kepentingan individu tersebut. Jika misalnya kesulitan yang dihadapi
adalah masalah finansial, maka dapat dicari solusi untuk pergi bersama
yang tidak perlu menghaiskan banyak uang atau solusi lain yang kiranya
tidak memberatkan orang tersebut.
Ansos adalah sebuah fenomena yang
sekiranya patut untuk disikapi dengan hati-hati. Pelabelan seseorang
dengan predikat ini bisa menimbulkan stigmatisasi dan marjinalisasi
terselubung yang pada akhirnya membuat orang tersebut menjadi
betul-betul anti sosial.
Oleh karena itu, daripada
mengartikan “ansos” sebagai sebuah fenomena antisosial, penulis lebih
suka untuk menyebutnya sebagai sebuah fenomena arogansi sosial sebab
pada tataran inilah terlihat dominasi nilai seseorang terhadap orang
lainnya tanpa berusaha mengetahui lebih jauh tentang kehidupan orang
tersebut. Menghindari hal ini, komunikasi adalah hal mutlak yang perlu
untuk dilakukan, sehingga tidak ada lagi antisosial maupun arogansi
sosial bahkan hingga pada hilangnya akronim “ansos.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Cara ngepos komentar tanpa blog.Klik Nama/URL.Isi nama kosongkan URL Dan tinggal tulis komentarmu